Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Lamongan Mugito mengatakan, dari total Luas Lahan Baku Sawah (LBS) sekitar 95.530 hektare, sebanyak 55 persen merupakan lahan non-irigasi atau sawah tadah hujan.
Kondisi tersebut membuat pola tanam perlu disesuaikan ketika ketersediaan air mulai terbatas. Petani yang berada jauh dari sumber air baku diarahkan menanam komoditas lahan kering seperti kacang hijau, kedelai, jagung, tembakau, tebu, kangkung hingga berbagai jenis buah-buahan.
“Ketika BMKG mengumumkan kemarau dan ancaman El Nino, masyarakat tani di area tadah hujan kita arahkan menanam tanaman yang hemat air seperti kacang hijau, kedelai, jagung, tembakau, tebu, kangkung, hingga buah-buahan,” ujar Mugito, Selasa (18/8/2026).
Menurutnya, langkah tersebut mulai menunjukkan hasil. Sejumlah komoditas telah dipanen dan harga jual di pasaran dinilai cukup baik.
Untuk memperkuat ketersediaan air di lahan tadah hujan, Pemkab Lamongan bersama Kementerian Pertanian juga melakukan intervensi melalui pembangunan dan perbaikan sarana irigasi.
Sebanyak 392 titik atau unit bangunan konservasi, Irigasi Perpompaan (Irpom), Irigasi Perpipaan (Irpip), serta Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT) dialokasikan. Selain itu, sebanyak 293 unit mesin pompa air dari program Kementerian Pertanian turut disalurkan tahun ini.
Di sisi lain, kondisi harga gabah turut memberikan angin segar bagi petani. Mugito menyebut harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani saat ini bahkan mencapai sekitar Rp8.600 per kilogram.
“Petani padi yang memasuki masa panen saat ini mencatatkan tren positif dengan tingginya nilai jual hasil tani. Harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani menembus angka hingga Rp8.600 per kilogram,” katanya.
Sementara untuk kawasan LBS yang mendapatkan pasokan dari jaringan irigasi teknis, terutama wilayah yang berada di bawah waduk besar dan sepanjang aliran Bengawan Solo, ketersediaan air masih relatif aman untuk budidaya padi.
Aktivitas pertanian di kawasan tersebut saat ini berlangsung dalam beberapa fase, mulai pengolahan lahan di wilayah Bengawan Jero, fase pertumbuhan tanaman, pengisian bulir hingga sejumlah lahan yang mulai memasuki masa panen.
Untuk menjaga pasokan air bagi tanaman yang masih dalam masa pemeliharaan maupun percepatan tanam, Pemkab Lamongan juga memperkuat koordinasi lintas sektor.
Bupati Lamongan Yuhronur Efendi bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dan Dinas Sumber Daya Air dan Bina Karya (SDABK) mengintensifkan pengerukan serta normalisasi saluran-saluran sluice yang berhulu di Bengawan Solo. Langkah tersebut dilakukan agar aliran air menuju lahan pertanian tetap lancar.
Mugito berharap berbagai upaya tersebut mampu menjaga produksi pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.
“Mohon doanya agar seluruh komoditas yang ditanam dulur-dulur tani di Lamongan bisa tumbuh subur, panen melimpah, sehingga pendapatannya meningkat dan makin sejahtera,” pungkasnya.
Editor: Beritakini.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar