Subscribe Us

Tampilkan postingan dengan label Regional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Regional. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 April 2026

BIP Foundation Santuni 2.000 Anak Disabilitas di Pamekasan

PAMEKASAN – Bani Insan Peduli Foundation kembali menunjukkan komitmennya dalam aksi kemanusiaan dengan menyantuni 2.000 anak disabilitas di wilayah Madura. Kegiatan sosial berskala besar ini digelar di Gedung Bakorwil IV Pamekasan pada Minggu (26/4/2026).
Mengusung tema “Memetik Berkah melalui Senyum Anak-anak Surga”, kegiatan ini dikemas dalam momentum halalbihalal yang inklusif dengan menghadirkan ribuan anak berkebutuhan khusus.

Aksi sosial ini bukan sekadar seremoni tahunan. BIP Foundation menegaskan kehadirannya sebagai bentuk kepedulian tulus terhadap sesama, khususnya kelompok rentan.

Dalam pelaksanaannya, panitia menekankan bahwa setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk mendapatkan perhatian dan kebahagiaan, tanpa memandang kondisi fisik. BIP Foundation pun berupaya hadir bukan hanya sebagai donatur, tetapi juga sebagai sahabat yang mengulurkan tangan tanpa membedakan latar belakang penerima manfaat.
Pendiri BIP Foundation, Ali Zainal Abidin atau yang akrab disapa Bang Ali, menegaskan bahwa kegiatan ini bertujuan menghapus jarak sosial akibat perbedaan fisik.
“Kemuliaan manusia bukan diukur dari kesempurnaan fisik, melainkan dari seberapa besar kepedulian yang dia berikan kepada sesama. Di mata kami, mereka adalah anak-anak surga yang membawa berkah,” ujarnya di hadapan para peserta.

Ia juga mengajak masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap kelompok disabilitas dan terus memberikan dukungan moral agar mereka dapat menjalani kehidupan dengan lebih baik.

Selain memberikan santunan, tamba dia, kegiatan ini juga diharapkan menjadi ruang silaturahmi bagi keluarga penyandang disabilitas. Melalui kegiatan ini, mereka diharapkan merasa lebih diterima dan didukung oleh lingkungan sosial.
Panitia juga memastikan seluruh fasilitas di lokasi kegiatan ramah disabilitas guna mendukung kenyamanan para peserta selama acara berlangsung. 

Kamis, 23 April 2026

Tanpa Penonton! Persiku Kudus Boyong Deltras ke Stadion Surajaya Lamongan

LAMONGAN – Persiku Kudus dipastikan akan menggunakan Stadion Surajaya Lamongan sebagai kandang sementara saat menghadapi Deltras Sidoarjo dalam lanjutan Championship 2025/2026, 27 April 2026. Laga tersebut diputuskan digelar tanpa kehadiran penonton.

Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) Persela Lamongan, Mahfud Syafi’i, mengatakan pihak Persiku telah mengajukan permohonan resmi penggunaan stadion beberapa hari lalu. Selain itu, Persiku juga meminta dukungan Panpel Persela untuk membantu pelaksanaan pertandingan, termasuk aspek teknis di lapangan.

“Persiku sudah berkirim surat untuk menggunakan Stadion Surajaya saat menjamu Deltras. Stadion Wergu Wetan akan dibongkar sehingga tidak bisa digunakan untuk pertandingan,” ujar Mahfud, Kamis (23/4/2026).

Ia menjelaskan, penggunaan Stadion Surajaya dilakukan karena markas Persiku di Kudus, Stadion Wergu Wetan, akan segera direnovasi sehingga tidak memungkinkan untuk menggelar pertandingan.

Saat ini, Panpel Persela tengah memproses seluruh perizinan, termasuk berkoordinasi dengan Polda Jawa Timur guna memastikan keamanan pertandingan berjalan lancar.

Menurut Mahfud, laga Persiku kontra Deltras dipastikan digelar tanpa penonton sebagai bagian dari pertimbangan keamanan dan kelancaran penyelenggaraan.

“Kami sudah mengupayakan seluruh perizinan. Tadi pagi juga dilakukan rapat koordinasi dengan pihak kepolisian terkait pengamanan pertandingan,” tambahnya.

Sementara itu, jadwal pertandingan mengalami perubahan. Laga yang semula direncanakan pada 26 April diundur menjadi 27 April 2026, seiring perubahan lokasi.

Sebelumnya, Stadion Surajaya juga akan digunakan oleh Persela Lamongan untuk menjamu Barito Putera pada 25 April 2026 dalam lanjutan kompetisi musim ini.

Minggu, 19 April 2026

Konsolidasi Jurnalistik PWI Pamekasan: Kupas 3 Prinsip Utama Kewartawanan hingga Bedah Berita Mengandung Unsur Fitnah dan Ghibah

PAMEKASAN - Persatuan Wartawan Indonedia (PWI) Kabupaten Pamekasan menggelar Konsolidasi Jurnalistik di bundaran monumen Arek Lancor, Minggu malam (19/4/2026). Selain doa bersama untuk Sekjen PWI Pusat alm. Zulmansyah Sekedang, acara tersebut juga dikemas dengan Tausiah Jurnalistik, menghadirkan wartawan Media Indonesia KH. Ghazi Mujtaba dan Berita Jatim Syamsul Arifin.

Ketua PWI Pamekasan Hairul Anam, melalui Ketua Bidang Budaya dan Agama Hasibuddin menjelaskan, acara tersebut turut mengundang pimpinan organisasi wartawan lainnya di Pamekasan. Sebut saja Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), Aliansi Jurnalis Pamekasan (AJP), Forum Wartawan Pamekasan (FWP), Jurnalis Center Pamekasan (JCP), Jurnalis Muda Pamekasan (JMP), dan seterusnya.

“Ini acara perdana Bidang Budaya dan Agama PWI Pamekasan tahun ini. Setidaknya ada tiga tujuan: silaturahmi, mengambil hikmah dari peristiwa kematian, dan mengasah insting jurnalistik para wartawan di Kabupaten Pamekasan,” tegas Hasib.

Dalam kesempatan itu, Ketua PWI Pamekasan Hairul Anam mengajak para wartawan untuk terus semangat dalam menyajikan karya-karya jurnalistik yang informatif, edukatif, menghibur, dan menguatkan fungsi kontrol sosial. Penekanannya ialah pada kepentingan publik.

Asesor Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers tersebut menyinggung beberapa produk jurnalistik di Kabupaten Pamekasan yang dalam dua tahun terakhir mengalami peningkatan. Termasuk makin terbukanya pejabat dalam menyikapi upaya konfirmasi pemberitaan dari wartawan. 

“Kami cermati, para pejabat dan masyarakat makin sadar betapa sikap tertutup terhadap upaya konfirmasi wartawan itu bagian dari melanggar UU Pers Nomor 40/1999. Sebab, akan menghambat proses percepatan desiminasi informasi publik yang dibutuhkan banyak masyarakat,” ujarnya.

Hindari Berita Mengandung Unsur Fitnah dan Ghibah

Dalam penjelasannya di hadapan peserta Konsolidasi Jurnalistik, wartawan Media Indonesia KH. Ghazi Mujtaba menekankan betapa pentingnya para wartawan menghindari karya berita yang mengandung unsur fitnah dan ghibah. Sebab, selain melanggar Kode Etik Jurnalistik (KEJ), hal tersebut juga dipastikan merugikan masyarakat.

“Berita yang faktanya tidak valid atau hoaks jelas merupakan fitnah. Sementara berita yang mengandung unsur ghibah lebih kepada yang menjurus pada pribadi seseorang, bukan yang berpijak pada kepentingan publik,” tegasnya.

Wartawan yang juga berprofesi sebagai da’i tersebut juga menyatakan bahwa tidak ada berita seharga kesehatan. Dirinya mencermati masih banyaknya wartawan di Pamekasan yang begadang untuk hal-hal yang tidak penting. Padahal, seharian sudah berjibaku dengan tugas-tugas kejurnalistikan yang menguras waktu dan pikiran.

“Kurangi begadang. Karena kesehatan wartawan sangat berpengaruh terhadap kualitas beritanya,” tegas Kiai Ghazi.

Kiai Ghazi juga menyinggung kematian. Berdasarkan hadis Nabi saw, seseorang terbilang merugi bila tidak bisa mengambil hikmah dari peristiwa kematian.

“Seperti dalam sambutan Ketua PWI barusan, kematian ini adalah sesuatu yang paling dekat dengan kita. Tidak perlu sakit, juga tidak mengenal umur,” ujarnya.

Kematian tidak mengenal umur, Kiai Ghazi menganalogikan kepada bambu. Ketika akan dibuat tongkat, maka yang ditebang ada bambu yang sudah tua. Sementara ketika akan dibuat sayur, yang “dibunuh” adalah bambu muda.

Tak hanya itu, Kiai Ghazi juga bercerita terkait dengan temannya yang kaya raya di Jawa. Temannya tersebut punya kebun kobi ribuan hectare. Tapi, dia tidak bisa mengonsumsi kopi karena terjerat penyakit jantung.

“Kita dapat mengambil hikmah betapa pendapatan dengan rezeki itu berbeda. Kita bisa mengatur pendatapan, tapi tidak dengan rezeki yang merupakan urusan Allah,” paparnya.

Kiai Ghazi mencontohkan seseorang yang dapat pendapatan atau gaji bulanan. Saat menerima gaji, ternyata dia kecelakaan, misalnya. Otomatis dia akan mengeluarkan gajinya untuk biaya berobat. Atau usai mempunyai pendapatan, seseorang terjerembab pada sakit yang butuh biaya pengobatan cukup besar.

“Jadi, kita tidak perlu risau dengan urusan rezeki. Sebab, Allah sudah mengaturnya sedemikian rupa,” tegasnya.

3 Prinsip Utama dan Tantangan Kewartawanan

Usai Kiai Ghazi menyampaikan tausiahnya, giliran wartawan senior Berita Jatim Syamsul Arifin yang menekankan penjelasannya pada tiga prinsip utama dalam dunia kewartawanan: independen dan berimbang, verifikasi, dan integritas.

Independen dan berimbang mengarah pada tidak memihak dan menyajikan fakta dari berbagai sudut pandang. Verifikasi itu menguji data berita sebelum disebarluaskan. Sedangkan indicator integritas ialah wartawan tidak membuat berita bohong (hoaks) atau menerima suap.

Dalam menjalankan tugasnya, menurut Syamsul Arifin, wartawan saat ini diharapkan pada tiga tantang: disrupsi informasi, sensasionalisme, dan regulasi hukum.

Tantangan yang pertama tidak terlepas dari gempuran medsos, yang menyebabkan pergeseran tugas wartawan dan menurunnya kepercayaan publik akibat maraknya hoaks. Sedangkan tantangan sensasionalisme berupa tekanan untuk mendapatkan klik (iklan), yang seringkali menurunkan kualitas jurnalistik menjadi sekedar clickbait.

Tantangan yang terakhir mengarah pada publikasi berita di Medsos pribadi tetap berpatokan pada UU ITE dan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi. Ini yang harus diwaspadai oleh para wartawan yang juga mengelola Medsos pribadi.

“Meskipun teknologi berubah, KEJ terutama yang menekankan pada independensi, uji informasi, tidak menghakimi, tetap harus menjadi fondasi utama,” tukasnya.

Jumat, 10 April 2026

Arumi : Peran Ibu Kian Krusial di Era Digital, Pengguna Medsos Terbesar adalah Perempuan

SURABAYA - Dalam rangka Hari Pers Nasional 2026 dan HUT PWI ke-80, Pengurus Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) Provinsi Jawa Timur menggelar acara seminar "Seminar Peran Perempuan Dalam Mengakses dan Menyebarkan Informasi di Era Digital di Aula Kantor PWI Jawa Timur, Jalan Taman Apsari 15-17, Surabaya, Jumat (10/4).

Seminar ini dihadiri sekitar 100 Orang,termasuk Ikatan Pelukis Wanita Indonesia Jawa Timur. Dengan narasumber keynote speaker, Arumi Bachsin Emil Dardak, Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Timur, Sherlita Ratna Dewi Agustin, S.SI, M.IP. Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Provinsi Jawa Timur, Dr. Sri Untari  Bisowarno, M.AP,  Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur, dan Dr. Eko Pamuji, M.I.Kom, Wakil Direktur UKW PWI Pusat

Kali pertama acara dibuka dengan laporan Ketua IKWI Jatim, Endang Suprapti menyatakan bahwa wanita memiliki peran penting dalam era media sosial saat ini. Karena wanita adalah khususnya ibu-ibu salah satu panutan dalam keluarga dalam mendidik anak-anak. ''Ibu-ibu harus bisa menyaring informasi yang benar dan tidak hoax untuk anak-anak. Ibu-ibu harus juga bisa membedakan mana informasi yang benar dan hoax umtuk anak-anak.Jadi wanita adalah garda terdepan dalam akses dan menyebarkan informasi untuk keluarga. Saya berharap ibu-ibu juga harus menyaksikan atau akses informasi yang positif positif saja untuk anak-anak," ujarnya.

Selanjutnya Ketua PWI Jatim, Lutfil Hakim giliran menyampaikan sambutannya. Dia mengatakan di era digital, menguasai informasi itu sangat penting. "Untuk bisa menguasai informasi maka kuasai wartawan. Untuk bisa menguasai wartawan kuasailah istri-istrinya." katanya sambil bercanda. Sehingga kedudukan wanita dalam era digital atau informasi ini sangat penting. Menurutnya pengguna medsos di Indonesia khususnya Jawa Timur jumlahnya fifty-fifty antara wanita dan pria. "Tapi yang terpenting informasi dari ibu lebih dipercaya di mata keluarga. Sehingga ibu-ibu harus juga hati-hati memilih informasi untuk anak-anaknya," ujar Lutfil.
Giliran keynote speaker Ibu Arumi menyampaikan materinya berupa slides. Ternyata ada fakta menaril. Demografi Jawa Timur, jumlah penduduk Jawa Timur pada 2025, 42,352 juta. terbagi 21,10 juta penduduk laki-laki dan 21,25 juta penduduk perempuan. Penetrasi atau pengguna internet di Indonesia pada 2025, yakni 80,66 persen terbagi 82,73 persen dan perempuan, 78, 57 persen. "Yang menarik perempuan mendominasi pengguna media sosial sekitar 56,3 persen. Tren dominasi ini sebenarnya sudah terlihat sejak 2021 yakni  52,6% pengguna instagram adalah perempuan," ujarnya.
Media sosial apa saja yang banyak diakses di Indonesia. "WhatAsp, 91,7%, Instagram, 84,6%, Facebook, 83,0%, Tiktok, 77,4%, Telegram 61,6 %, dan Messenger, 50,5%, Jadi ibu-ibu harus mengontrol dengan ketat penggunaan medsos untuk anak-anak," ujar Arumi. Dalam kesempatan itu, Arumi  juga memaparkan abagaimana memilih media yang benar dan hoax dan bagaimana mengatasi informasi hoax. ''Jadi ibu-ibu harus selalu check and recheck informasi yang didapatkan di medsos sebelumnya disebarkan ya," jelasnya. Arumi terakhir mengatakan hindari update status real time pada di medsos. Ini berbahaya. Karena orang bermaksud jahat tahu posisi kita sebenarnya. Jadi saya bila update status di medsos biasanya tidak real time. Ke Bromo pagi, tiba di rumah malam baru update status di FB," ujarnya.

Sementara. pada diskusi panel, Ketut yang mewakili Dinas Komunikasi dan Informasi Provinsi Jawa Timur, mengatakan ada aplikasi yang bisa mengontrol anak-anak mengakses media sosial. Coba saja ibu-ibu cari google. Sedangkan, Ibu Sri Untari mengatakan selain membatasi akses medsos untuk anak-anak penting tapi juga disertai doa. Jadi saya selalu berdoa untuk kesukses anak-anak saya. Doa ibu lebih mustajab. "Alhamdulilah, anak-anak saya berhasil dan sukses," ujar Ketua Komisi E ini. Sedangkan, Eko Pamuji mengatakan di era medsos ini kita harus skeptis atau waspada. ''Ibu-ibu dunia internet di genggaman tangan kita seperti hutan banyak binatang buas. Jadi kita harus tetap waspada bila menerima informasi di medsos. Check and recheck jangan lupa," pungkasnya. Acara seminar pun berakhir pukul 16.30, para peserta pun puas.