LAMONGAN | BERITAKINI.ID – Deru dayung berpacu di atas air, sorak penonton pecah dari tepian Bengawan Mati. Festival Dayung Tejoasri kembali menghadirkan suasana meriah di Desa Tejoasri, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, Minggu (9/8/2026).
YUHRONUR EFENDI, Bupati Lamongan (ist)Tak sekadar menyuguhkan persaingan antarpeserta, festival ini menjadi tontonan menarik bagi masyarakat sekaligus ruang untuk menghidupkan kembali olahraga tradisional yang lekat dengan kehidupan warga di kawasan bantaran sungai.
Suasana semakin semarak ketika Bupati Lamongan Yuhronur Efendi hadir menyaksikan langsung jalannya festival. Mengenakan pakaian santai bernuansa olahraga, Bupati yang akrab disapa Pak Yes itu juga menyapa warga dan peserta di tengah ramainya lokasi kegiatan.
Pak Yes: Festival Harus Terus Berkembang
Dalam keterangannya, Pak Yes memberikan apresiasi terhadap konsistensi masyarakat Desa Tejoasri yang terus mengembangkan Festival Dayung. Menurutnya, kegiatan tersebut memiliki potensi lebih besar jika terus dikembangkan secara berkelanjutan.
"Ini adalah festival. Tentu harus terus berkembang, terus berbenah, dan menjadi lebih baik," ujar Pak Yes saat ditemui di sela kegiatan.
DAYUNG TEJOASRI - Pelaksanaan Dayung Tejoasri, di Desa Tejoasri, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, Minggu (9/8/2026) (ist)Menurutnya, festival seperti ini tidak hanya berbicara mengenai siapa yang menjadi pemenang dalam perlombaan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut dapat menjadi sarana memperkuat kebersamaan masyarakat sekaligus mengenalkan potensi daerah kepada masyarakat yang lebih luas.
Festival Dayung Tejoasri juga dinilai memiliki kekuatan dari sisi sosial, budaya, pariwisata hingga ekonomi. Bengawan Mati yang menjadi lokasi perlombaan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat sekitar.
"Ini bukan hanya olahraga, tetapi juga menjadi pemantik potensi sosial budaya, pariwisata hingga ekonomi masyarakat," kata Pak Yes.
Tak Hanya Pendayung, Warga Ikut Menikmati Festival
Kemeriahan festival terlihat dari antusiasme warga yang memadati kawasan kegiatan. Penonton berdiri di sepanjang tepian untuk menyaksikan tim-tim yang berlomba memacu perahu mereka.
Festival juga menghadirkan interaksi antara peserta, warga dan pengunjung. Kehadiran masyarakat dalam jumlah besar membuat kawasan Tejoasri berubah menjadi ruang hiburan sekaligus promosi potensi desa.
Bagi masyarakat, momentum tersebut bukan hanya kesempatan menyaksikan pertandingan. Festival menjadi ruang berkumpul, bersilaturahmi dan menikmati suasana desa yang dipenuhi aktivitas warga.
Dari Olahraga Tradisional Menuju Sport Tourism
Perkembangan Festival Dayung Tejoasri menunjukkan bahwa olahraga tradisional dapat dikemas menjadi sebuah atraksi wisata. Konsep tersebut sejalan dengan upaya mendorong desa agar mampu mengembangkan potensi lokal tanpa meninggalkan kearifan masyarakat setempat.
Festival Dayung Tejoasri sebelumnya juga mendapat apresiasi karena dinilai mampu menjadi pemantik potensi sosial budaya, pariwisata dan ekonomi masyarakat Lamongan. 1
Dengan kemasan yang terus diperbaiki dan dukungan masyarakat, Festival Dayung Tejoasri berpeluang menjadi salah satu ikon sport tourism di Lamongan.
Yang menarik, kekuatan festival bukan hanya berada di atas air. Di balik perlombaan, ada gotong royong warga, tradisi masyarakat sungai, potensi wisata serta peluang ekonomi yang ikut bergerak.
Karena itu, Festival Dayung Tejoasri bukan sekadar tentang siapa yang tercepat mengayuh perahu. Lebih jauh, festival ini menjadi gambaran bagaimana sebuah tradisi desa bisa dikembangkan menjadi kekuatan wisata dan ekonomi masyarakat.
Editor: Beritakini.id


Tidak ada komentar:
Posting Komentar