LAMONGAN | BERITAKINI.ID – Ada tradisi unik yang terus dirawat warga Dusun Semerek, Desa Sendangagung, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, setiap memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Tahun ini, sebanyak 25 ekor kambing disedekahkan warga untuk disembelih dan dimasak bersama.
SEDEKAH KAMBING - Warga Dusun Semerek, Desa Sendangagung, Paciran, Lamongan, bergotong royong mengolah 25 kambing dalam peringatan Maulid Nabi. (ist)
Bagi masyarakat Semerek, Maulid Nabi bukan sekadar peringatan keagamaan. Momentum tersebut menjadi ajang berkumpul, berbagi dan mempererat gotong royong. Bahkan, warga setempat menyebutnya sebagai “hari raya ketiga”, setelah Idulfitri dan Iduladha.
“Warga kami menyebut peringatan Maulid Nabi sebagai hari raya ketiga, setelah Idul Fitri dan Idul Adha,” kata tokoh masyarakat setempat yang juga Wakil Ketua DPRD Lamongan, Imam Fadlli, Jumat (4/9/2026).
25 Kambing Jadi Sedekah Warga
Tradisi tersebut kembali digelar tahun ini melalui rangkaian kegiatan yang diselenggarakan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Al Hidayah. Kegiatannya meliputi Festival Anak Saleh, pawai drumben, khataman Al-Qur’an hingga pengajian akbar.
Namun, salah satu tradisi yang paling menarik perhatian adalah sedekah kambing. Warga secara sukarela menyumbangkan kambing untuk disembelih dan diolah menjadi hidangan bagi masyarakat dan para tamu yang hadir.
Tahun ini, sedekah warga terkumpul sebanyak 25 ekor kambing. Puluhan kambing tersebut kemudian disembelih secara bersama-sama di halaman balai dusun.
“Maulid Nabi menjadi salah satu momentum keagamaan yang selalu dinantikan masyarakat. Kami biasa menyebutnya sebagai hari raya ketiga. Jadi, selain Hari Raya Idulfitri dan Iduladha, ada pula hari kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW,” ujar Imam.
Semua Warga Ambil Bagian
Semangat berbagi tidak berhenti pada sedekah kambing. Masyarakat juga bergotong royong memenuhi berbagai kebutuhan acara, mulai dari beras, buah-buahan, sayuran, uang tunai hingga kebutuhan konsumsi lainnya.
Ketika proses penyembelihan dimulai, suasana kebersamaan semakin terasa. Tungku dan kayu bakar disiapkan. Warga kemudian berbagi tugas sesuai kemampuan masing-masing.
Kaum laki-laki menangani penyembelihan, memotong dan menyiapkan daging. Sementara kaum perempuan mengolah daging menjadi berbagai hidangan.
Tidak ada sekat dalam kegiatan tersebut. Ada warga yang bertugas menyembelih, menyiapkan bahan masakan, memasak hingga menyiapkan hidangan untuk disantap bersama.
Bukan Sekadar Makan Bersama
Bagi Imam, suasana kebersamaan itulah yang menjadi salah satu nilai penting dari tradisi Maulid Nabi di Dusun Semerek.
“Melalui kegiatan ini, masyarakat bisa berkumpul, saling membantu, dan bergotong royong. Semangatnya bukan hanya merayakan Maulid Nabi, tetapi juga menjaga kekompakan dan kerukunan warga,” katanya.
Dusun Semerek hanya terdiri dari tiga rukun tetangga (RT). Meski wilayahnya tidak besar, kekompakan masyarakatnya terbilang kuat. Berbagai kegiatan sosial maupun keagamaan kerap dikerjakan secara bersama-sama.
Karena itu, bagi warga Semerek, Maulid Nabi bukan sekadar agenda tahunan atau seremoni keagamaan. Di balik pengajian, pawai, khataman Al-Qur’an hingga 25 kambing yang disembelih dan dimasak bersama, terdapat tradisi merawat persaudaraan dan kepedulian antarwarga.
Perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW menjadi momentum bagi masyarakat untuk menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah sekaligus menjaga kerukunan dan semangat gotong royong yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Saat hidangan Maulid tersaji untuk para tamu dan warga, yang dibagikan masyarakat Semerek bukan sekadar makanan.
“Ada kebersamaan yang ikut disuguhkan,” pungkas Imam.
Editor: Beritakini.id

Tidak ada komentar:
Posting Komentar