Subscribe Us

Sabtu, 28 Februari 2026

Redam Ketegangan Antar Pemuda, Polsek Karanggeneng Ops Patroli Ber-soun System

LAMONGAN – Polsek Karanggeneng melaksanakan kegiatan patroli penertiban patrol sahur di wilayah Kecamatan Karanggeneng  Minggu (1/3/2026). Giat ini menyikapi atas keresahan masyarakat terkait suara sound system berlebihan, l yang mengganggu pengguna jalan raya serta berpotensi memicu gesekan antar pemuda.

Kegiatan yang dipimpin langsung oleh Kapolsek Karanggeneng IPTU Sofian Ali, S.H bersama anggota dilaksanakan pada hari Minggu, (01/03) mulai pukul 02.00 WIB hingga selesai, menyasar sepanjang jalan raya di wilayah Kecamatan Karanggeneng, Kabupaten Lamongan.

Penertiban ini dilakukan menyusul adanya laporan masyarakat yang merasa resah dengan penggunaan sound system saat kegiatan patrol sahur.

Selain menimbulkan kebisingan di waktu dini hari, aktivitas tersebut juga dinilai membahayakan pengguna jalan karena dilakukan di badan jalan serta berpotensi menimbulkan kesalahpahaman antar kelompok pemuda yang dapat berujung tawuran.

Dalam kegiatan tersebut, petugas memberikan pembinaan dan imbauan secara humanis kepada para pemuda agar tidak melaksanakan patrol sahur di jalan raya.

Mereka juga diminta untuk tidak menggunakan sound system secara berlebihan yang dapat mengganggu ketertiban umum.

Kapolsek Karanggeneng menegaskan bahwa patroli ini bertujuan untuk menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) selama bulan suci Ramadhan agar tetap aman dan kondusif.

Para pemuda dihimbau untuk menjaga kesucian bulan Ramadhan dengan memperbanyak kegiatan positif serta berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan justru melakukan aktivitas yang dapat memicu konflik.

“Patrol sahur boleh saja dilaksanakan sebagai tradisi, namun harus tetap memperhatikan ketertiban, keselamatan, dan tidak mengganggu masyarakat maupun pengguna jalan,” tegasnya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan tercipta suasana Ramadhan yang damai, tertib, dan penuh keberkahan di wilayah Kecamatan Karanggeneng.

Secara terpisah, Kasihumas Polres Lamongan IPDA M. Hamzaid, S.Pd mengimbau masyarakat apabila menemukan potensi gangguan Kamtibmas agar segera melaporkan melalui layanan Call Center 110 Polri yang aktif 24 jam dan bebas pulsa, guna penanganan cepat oleh pihak kepolisian.

Patroli Harkamtibmas dan Rakor Cooling System, Polres Lamongan Tak Ingin Ramadhan Ternodai

LAMONGAN – Dalam rangka menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (Harkamtibmas) selama bulan suci Ramadhan 1447 H, Polres Lamongan menggelar rangkaian kegiatan. Giat ini yakni Patroli Harkamtibmas sekaligus Rapat Koordinasi (Rakor) Cooling System di wilayah Pantura Paciran, Sabtu (28/2) malam.

Kegiatan diawali dengan Rakor Cooling System yang dilaksanakan pada pukul 21.45 WIB di Balai Desa Weru, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan.

Hadir dalam kegiatan tersebut Kabagops Polres Lamongan Kompol Budi Santoso, S.H., M.H., Kasat Binmas, Kasat Intelkam, Camat Paciran, Danramil 0812/17 Paciran, Kapolsek Paciran AKP Erni Sugihastuti, S.E., para kepala desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta warga setempat.

Rakor tersebut dilaksanakan sebagai upaya cooling system guna mencegah potensi gangguan kamtibmas selama bulan Ramadhan, khususnya terkait kegiatan patrol sahur yang menggunakan sound system dan kerap memicu gesekan antarwarga.

Dalam arahannya, Kabagops Polres Lamongan menyampaikan pesan Kapolres Lamongan yang menekankan agar tidak ada lagi kegiatan patrol sahur yang berpotensi menimbulkan gangguan keamanan dan ketertiban.
“Menjaga kamtibmas bukan hanya tugas aparat, tetapi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Tradisi budaya yang berpotensi mengganggu keamanan harus dievaluasi dan dihilangkan. Lakukan kegiatan yang positif dan membawa manfaat di bulan suci ini,” tegasnya.

Camat Paciran menyatakan akan menerbitkan surat imbauan kepada seluruh desa di wilayahnya untuk meniadakan patrol sahur dengan sound system.

Kapolsek Paciran juga meminta para kepala desa aktif menyampaikan himbauan tersebut kepada masyarakat.

Sementara itu, Kepala Desa Sidokumpul menyatakan setuju terhadap penghentian patrol sahur keliling, sedangkan Kepala Desa Weru berharap pendekatan persuasif tetap dikedepankan serta mengusulkan agar  ada pembinaan langsung kepada para pemuda.

Disepakati bahwa penghentian patrol sahur di wilayah Komplek Weru Paciran dan sekitarnya akan disosialisasikan oleh Karang Taruna kepada para pemuda guna menjaga kondusifitas selama Ramadhan.

Usai pelaksanaan rakor, pada pukul 01.00 WIB, jajaran Polres Lamongan melaksanakan Patroli Harkamtibmas pada jalur Jalan Raya Deandles Tlogosadang, Kecamatan Paciran, tepatnya di perbatasan Tlogosadang Lamongan – Banyutengah Gresik serta Tugu Perbatasan Panceng (Gresik) – Tlogosadang (Paciran) Lamongan.

Dalam kegiatan tersebut, Polres Lamongan mengerahkan 1 SSK (Satuan Setingkat Kompi) dengan kekuatan 90 personel yang terdiri dari anggota Polres Lamongan gabungan berbagai Satuan Fungsi dan Polsek Jajaran Rayon 6.

Dalam arahan apel Kabag Ops Polres Lamongan menyampaikan agar seluruh anggota tetap mempedomani aturan hukum dalam bertugas.

“Apabila dalam patroli ditemukan pemuda yang mencurigakan agar dilakukan pemeriksaan. Jika kedapatan membawa senjata tajam atau barang berbahaya lainnya, lakukan tindakan tegas sesuai prosedur hukum yang berlaku,” tegasnya.

Patroli siaga ini tidak hanya dalam rangka harkamtibmas, tetapi juga sebagai langkah antisipasi terhadap kelompok-kelompok yang berpotensi mengganggu situasi keamanan di wilayah Kabupaten Lamongan.

Dengan rangkaian kegiatan rakor cooling system dan patroli penyekatan tersebut, diharapkan situasi kamtibmas di wilayah Pantura Paciran dan Kabupaten Lamongan secara umum tetap aman, tertib, dan kondusif selama bulan suci Ramadhan.

Kasihumas Polres Lamongan IPDA M. Hamzaid, S.Pd tak henti-hentinya mengimbau masyarakat untuk segera menghubungi Call Center 110 (gratis) apabila membutuhkan bantuan kehadiran polisi atau terjadi gangguan keamanan.

Jumat, 27 Februari 2026

Setahun

Quick Respond Polsek Mantup, Sigap Bersihkan Kerikil Sisa Banjir Dadakan di Depan Pasar Mantup

LAMONGAN - Dibawa komando AKBP Arif Fazlurrohman, Polres Lamongan terus kembangkan giat cepat kemasyarakatan. Seperti saat terjadi   hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Mantup menyebabkan banjir dadakan di sekitar Pasar Mantup, Jumat (27/2) sore. Mereka turun jalan membereskan bebatuan yang membahayakan pengguna jalan.

Debit air yang sempat menggenangi badan jalan meninggalkan material berupa batu-batu kerikil di tengah Jalan Raya Mantup sehingga berpotensi membahayakan pengguna jalan.

Merespons kondisi tersebut, Kapolsek Mantup AKP Kharis Ubaidillah  beserta anggota bergerak cepat (quick respons) melakukan pembersihan material kerikil yang berserakan di badan jalan.
Kegiatan dilaksanakan mulai pukul 16.30 WIB hingga selesai.

Dengan menggunakan peralatan seadanya, Kapolsek Mantup beserta anggota membersihkan batu-batu kerikil dari tengah jalan guna mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas, khususnya bagi pengendara roda dua yang melintas.

Kasihumas Polres Lamongan IPDA M. Hamzaid, S.Pd menyampaikan bahwa langkah cepat ini merupakan bentuk pelayanan Polri kepada masyarakat dalam menjaga keamanan dan keselamatan berlalu lintas pasca bencana alam.

Kehadiran anggota di lokasi diharapkan mampu memberikan rasa aman sekaligus memastikan arus lalu lintas kembali lancar.

Berkat kesigapan petugas, kondisi jalan di depan Pasar Mantup kembali bersih dan aman dilalui kendaraan.

Aktivitas masyarakat pun dapat berjalan normal tanpa hambatan berarti.

Masyarakat diimbau untuk selalu berhati-hati saat berkendara, terutama setelah terjadi hujan deras atau banjir yang berpotensi meninggalkan material di jalan.

Jika menemukan kondisi jalan yang membahayakan, segera laporkan kepada pihak kepolisian terdekat agar dapat segera ditindaklanjuti demi keselamatan bersama.

Fenomena Blood Moon Terjadi 13 atau 14 Ramadan, Pakar UIN Madura: Analisis Astronomi Bulan

Gerhana bulan total tanggal 3 Maret 2026 mengundang pertanyaan sejumlah pemerhati bulan karena diberitakan terjadi tanggal 13 (malam ke-14) Ramadan 1447 H. Secara teori astronomi, gerhana bulan terjadi ketika matahari-bumi-bulan berada dalam satu garis lurus, saat fase bulan purnama (full moon), dan bulan memasuki bayangan Bumi (umbra). Karena itu, gerhana bulan hanya mungkin terjadi saat purnama. 

“Dalam sistem kalender hijriah, purnama secara teoritis jatuh sekitar tanggal 14–15 bulan Qamariyah. Namun dalam praktiknya, kadang gerhana terjadi pada tanggal 13, kadang 14, bahkan bisa mendekati 15. Mengapa?” kata Achmad Mulyadi selaku Guru Besar Ilmu Falaq UIN Madura.

Secara astronomis, jelasnya, dari prinsip dasar astronomi gerhana bulan dapat dijelaskan, pertama, siklus sinodik Bulan tidak tepat berumur 29,5 Hari. Rata-rata siklus sinodik Bulan adalah 29 hari 12 jam 44 menit 2,8 detik, tetapi nilai ini adalah nilai rata-rata. Pada kenyataannya bisa lebih pendek (~29,27 hari) dan bisa juga lebih panjang (~29,83 hari). Akibatnya, momen purnama tidak selalu tepat di tengah tanggal 14 kalender hijriah. Kedua, awal Bulan hijriah tidak selalu astronomis murni.  

Dalam praktiknya, awal bulan bisa ditetapkan dengan rukyat (observasi), dan hisab kriteria tertentu (misalnya imkanur rukyah) untuk itu, perbedaan beberapa jam dalam penetapan awal bulan akan mempengaruhi posisi tanggal purnama. Jika awal bulan ditetapkan sedikit “lebih awal”, maka purnama bisa jatuh di tanggal 13 malam dan jika sedikit “lebih lambat”, bisa jatuh di tanggal 15 malam. 

Ketiga, waktu terjadinya purnama bersifat Global. Fase purnama terjadi dalam satu waktu astronomis universal (UTC). Namun di Indonesia bisa sudah tanggal 14 malam. Di wilayah lain masih tanggal 13 atau sudah masuk tanggal 15. Karena kalender hijriah berbasis terbenamnya matahari (maghrib), maka pergeseran beberapa jam saja bisa mengubah tanggal hijriah.

Disamping itu, orbit bulan berbentuk elips, bukan lingkaran sempurna. Akibatnya, kecepatan Bulan berubah-ubah. Kadang bergerak lebih cepat (dekat perigee). Kadang lebih lambat (dekat apogee). Ini menyebabkan waktu tepat purnama juga sedikit bergeser dari rata-rata.

Dengan demikian, gerhana bulan kadang terjadi tanggal 13 dan kadang 14 karena purnama tidak selalu tepat di tengah tanggal (bulan) hijriah, siklus Bulan bervariasi (tidak konstan), awal bulan hijriah bisa berbeda beberapa jam, perbedaan zona waktu memengaruhi tanggal lokal dan Orbit Bulan elips menyebabkan variasi kecepatan.

“Secara prinsip gerhana bulan selalu terjadi saat purnama secara astronomis, tetapi tanggal hijriahnya bergantung pada sistem penanggalan dan lokasi pengamat,” ujarnya.

Bagaimana Fenomena Gerhana Bulan Total 1447 H?

Dilihat dari fase gerhana, kata Mulyadi, gerhana total terjadi setelah magrib di Indonesia (10:58 UTC/17.58 WIB sampai 13:46 UTS/20:46 WIB). Fenomena ini dapat dianalisis dari aspek umur bulan.  Bulan baru dimulai saat stelah konjungsi terjadi. Secara astronomis, konjungsi awal bulan ramadan terjadi pada tanggal 18 Pebruari 2026 pukul 00 UTC atau :00 WIB. Maka, saat maksimum gerhana terjadi pada 3 Maret 2026 pukul 12:59 UTC/19:59 WIB. Saat gerhana ini, umur bulan adalah 13.54 hari dan disebut Fenomena Blood Moon.

Dengan demikian, secara astronomis, purnama terjadi pada umur 13,5-14,8 hari. Untuk itu, umur bulan 13,5 hari pada tanggal 3 Maret 2026. Artinya, secara komputasi hisab gerhana bulan terjadi pada malam 13 atau 14 bergantung pada penetapan awal bulannya. Gerhana bulan terjadi pada 13 Ramadan 1447 H (malam  14) jika awal bulan dihitung lebih awal, dan terjadi pada 14 Ramadan 1447 H (malam 14) jika awal bulan ditentukan sedikit mundur/20 Pebruari 2026).

Dianalisis dari aspek jarak bulan dengan bumi saat gerhana, perkiraan jarak geosentris saat maksimum yaitu ± 362.000 – 365.000 km. Jarak ini disebabkan posisi bulan terkategori dekat dengan bumi (perigee ringan) dengan diameter sudut bulan ≈ 33,0 – 33,3 arcminute. Karena cukup dekat, maka durasi totalitas saat gerhana relatif panjang, yakni 1 jam 34 menit.

Bagaimana Wujud Gerhana Bulan Total  4 Kabupaten di Madura?

Pulau Madura (mencakup Bangkalan, Pamekasan, Sumenep, dan Sampang) berada pada rentang koordinat astronomis yaitu lintang  sekitar 6°50′ – 7°15′ LS, dan bujur sekitar 112°40′ – 114°00′ BT dengan zona waktu : WIB (UTC +7) dan ΔT tahun 2026 ≈ 74 detik. Perbedaan koordinat antarkabupaten relatif kecil (<1°), sehingga parameter astronomis gerhana hampir identik untuk seluruh Madura. 

“Bagaimana kondisi bulan saat terbit?” tanya Mulyadi.

Pada 3 Maret 2026, jawabnya, bulan terbit sekitar 17:47–17:49 WIB dan Maghrib jatuh sekitar 17:44–17:46 WIB. Ketika bulan terbit, gerhana telah berlangsung ±10–12 menit. Maknanya adalah masyarakat Madura menyaksikan Bulan muncul dari ufuk timur dalam kondisi sudah memasuki fase gerhana parsial dan bulan berada pada ketinggian ≈ 2–3°, dan azimut ≈ 88°–90° (Timur sejati).  Karena elevasi sangat rendah, observasi awal dipengaruhi refraksi atmosfer dan kemungkinan adanya hambatan horizon lokal berupa  pepohonan, bangunan, perbukitan.

“Perlu dipahami bahwa waktu dan posisi saat maksimum yaitu pukul 19:59 WIB. Dengan koreksi topocentrik (paralaks horizontal ≈ 59′ dan koreksi waktu ±20–35 detik), maka maksimum lokal di Madura akan terjadi sekitar pukul 19:59:10 – 19:59:20 WIB dengan posisi ketinggian Bulan ≈ 32°–35°, azimut ≈ 100°–110° (Timur–Tenggara), jarak Bulan ≈ 363.000 km, diameter sudut ≈ 32,9′ dan durasi totalitas ≈ 94 menit. Dengan elevasi ±33° menunjukkan bahwa kondisi Bulan sangat ideal untuk pengamatan karena posisinya sudah jauh dari gangguan atmosfer bawah,” bebernya.

Karena gerhana bulan adalah fenomena global (selama Bulan diatas ufuk), maka perbedaan lokasi di Madura hanya menghasilkan selisih waktu terbit ±2 menit, selisih tinggi maksimum <1° dan selisih waktu kontak ±30 detik. Secara astronomis, seluruh Madura berada dalam zona visibilitas optimal tanpa perbedaan signifikan.

Secara astronomi, purnama memang terjadi pada umur sekitar 13,5–14,8 hari. Kondisi ini berimplikasi bahwa Gerhana Bulan Total dapat disebut terjadi pada malam 14 atau 15 Ramadan, bergantung pada metode penetapan awal bulan (rukyat atau hisab kriteria tertentu).

Dengan demikian, wilayah Madura berada dalam kondisi sangat ideal untuk mengamati Gerhana Bulan Total 13 (malam 14) Ramadhan 1447 H (3 Maret 2026). Tanpa keraguan, perbedaan tanggal tersebut bergantung pada penetapan awal bulan ramadhannya, tetapi dapat dinyatakan bahwa fenomena blood moon dapat  terjadi saat purnama, yakni tanggal 13, 14 atau 15 bulan qamariah. 

“Untuk wilayah Madura, perbedaan koordinat antar kabupaten tidak menimbulkan variasi signifikan dalam parameter observasi. Fenomena Gerhana Bulan Total (GBT) berlangsung cukup lama (94 menit) pada ketinggian optimal (~33°), dengan umur bulan 13,54 hari yang konsisten dengan fase purnama presisi,” tukasnya. (Prof. Dr. H. Achmad Mulyadi, M.Ag, Guru Besar Ilmu Falaq UIN Madura)