Subscribe Us

Minggu, 31 Mei 2026

Dari Balik Jeruji, Selada untuk Ribuan Piring MBG: Kisah Warga Binaan Lapas Lamongan Menanam Harapan

LAMONGAN — Setiap pekan, puluhan kilogram selada segar dipanen dari sudut Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Lamongan. Sayuran hijau yang tumbuh rapi dengan sistem hidroponik itu bukan sekadar hasil pertanian biasa. Dari balik tembok penjara, selada tersebut kini menjadi bagian dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinikmati ribuan masyarakat.

Tak banyak yang menyangka, lahan di dalam lapas yang identik dengan pembinaan narapidana kini menjelma menjadi kebun produktif yang memasok kebutuhan pangan lokal. Hasil panen selada warga binaan bahkan telah menjalin kemitraan dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Keduyung, Lamongan.

Setiap minggu, sekitar 75 kilogram selada segar dikirim untuk memenuhi kebutuhan dapur MBG yang melayani sekitar 2.300 penerima manfaat. Sayuran tersebut menjadi salah satu komponen penting dalam menu harian karena berfungsi sebagai pelengkap nutrisi sekaligus menambah kualitas penyajian makanan.

Kepala Lapas Kelas IIB Lamongan, Heri Sulistyo, mengatakan keberhasilan tersebut merupakan bagian dari program pembinaan kemandirian yang dikembangkan di lingkungan lapas. Menurutnya, warga binaan tidak hanya menjalani masa hukuman, tetapi juga dibekali keterampilan yang dapat menjadi bekal hidup setelah kembali ke masyarakat.

"Selada yang dipanen warga binaan kini sudah rutin disalurkan untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis. Ini menjadi bukti bahwa proses pembinaan dapat menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat luas," ujarnya.

Tidak hanya selada, Lapas Lamongan juga mengembangkan berbagai sektor usaha produktif lainnya. Di area Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE), warga binaan mengelola budidaya ikan patin yang telah dua kali panen, menanam padi melalui kerja sama dengan pihak ketiga, hingga membudidayakan kangkung premium yang sebagian hasilnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan dapur lapas.

Transformasi lapas menjadi kawasan produktif ini juga menarik perhatian mitra MBG. Menariknya, kerja sama antara Lapas Lamongan dan SPPG Keduyung berawal dari media sosial.

Elan Mahardika, pengelola SPPG Keduyung, mengaku pertama kali mengetahui potensi pertanian lapas setelah melihat unggahan hasil panen selada di akun Instagram resmi Lapas Lamongan. Rasa penasaran mendorongnya untuk berkunjung langsung.
Sesampainya di lokasi, ia justru menemukan potensi yang jauh lebih besar dari yang dibayangkan.

"Saya melihat langsung budidaya selada, kangkung, perikanan hingga peternakan kambing. Potensinya luar biasa dan sangat strategis untuk mendukung kebutuhan bahan baku Program Makan Bergizi Gratis," ungkapnya.

Menurut Elan, keberadaan pemasok lokal menjadi faktor penting bagi keberlanjutan program MBG. Selain menjaga kualitas bahan pangan tetap segar, kemitraan dengan lembaga lokal juga menciptakan dampak sosial yang lebih luas.

Kini, dari balik jeruji yang selama ini identik dengan pembatas kebebasan, tumbuh kisah lain tentang kesempatan kedua. Selada-selada hijau yang dipanen warga binaan tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga menjadi simbol bahwa proses pembinaan dapat melahirkan produktivitas, keterampilan, dan harapan baru bagi masa depan mereka.

Ke depan, Lapas Lamongan bahkan tengah mengembangkan budidaya melon serta merancang pembangunan keramba ikan lele untuk memperluas sektor agro-pangan. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjadikan lapas tidak sekadar tempat menjalani hukuman, melainkan ruang belajar, bekerja, dan membangun kembali masa depan.

0 Post a Comment:

Posting Komentar