Demi Argentina, Satu Kampung di Pesisir Lamongan Berubah Jadi "Argamania
LAMONGAN | BERITAKINI.ID – Euforia Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat tak hanya membius jutaan pasang mata di berbagai penjuru dunia. Di sebuah kampung pesisir utara Kabupaten Lamongan, semangat sepak bola justru melahirkan kisah unik yang sarat kebersamaan dan persaudaraan.
NOBAR - Rickyanto Mundzib, inisiator Argamania, Kampung Sukunan, Desa Paciran, Kecamatan Paciran, saat nobar Argentina - Inggris. Foto : RedaksiSaat jutaan pendukung sepak bola di seluruh dunia bersiap menyambut partai puncak antara Argentina melawan Spanyol, atmosfer yang sama juga terasa begitu kuat di Kampung Sukunan, Desa Paciran, Kecamatan Paciran, Lamongan. Jalan-jalan kampung mulai dihiasi bendera Argentina, warung kopi dipenuhi perbincangan tentang peluang Lionel Messi membawa Tim Tango kembali berjaya, sementara layar lebar telah dipersiapkan untuk menggelar nonton bareng final yang dipastikan berlangsung meriah.
Di kampung inilah lahir sebuah komunitas yang menamakan diri Argamania atau Argentina Mania. Komunitas yang seluruh anggotanya merupakan warga setempat itu tumbuh bukan karena organisasi resmi, melainkan berawal dari tradisi sederhana masyarakat pesisir yang gemar berkumpul atau dalam bahasa setempat dikenal dengan istilah janduman.
Penggagas komunitas tersebut adalah Rickyanto Mundzib, pengusaha muda di bidang perkapalan yang ingin menghadirkan ruang kebersamaan bagi warga kampungnya melalui sepak bola, olahraga yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Paciran.
"Bermula dari keinginan untuk janduman bersama warga. Sambil ngopi, merokok, makan camilan, dan tentu saja nonton bareng pertandingan Piala Dunia," ujar Rickyanto Mundzib, Sabtu (18/7/2026).
Menurut Ricky, sepak bola bukan lagi sekadar hiburan bagi warga Kampung Sukunan. Hampir setiap pertandingan penting selalu menjadi alasan masyarakat berkumpul hingga larut malam. Dari kebiasaan sederhana itulah tumbuh rasa persaudaraan yang semakin kuat antarsesama warga.
"Kami rata-rata memang gila bola. Uniknya, hampir semuanya pendukung berat Timnas Argentina. Akhirnya satu kampung ini dikenal sebagai Argamania atau Argentina Mania," tuturnya sambil tersenyum.
Julukan tersebut bahkan menjadi bahan candaan di tengah warga. Selama Piala Dunia berlangsung, semangat mereka seolah berpindah sementara dari klub kebanggaan daerah menuju Tim Tango. Bendera Argentina berkibar di berbagai sudut kampung, sementara obrolan sehari-hari dipenuhi prediksi skor hingga susunan pemain yang akan diturunkan pada laga final.
"Ada yang bilang, selama Piala Dunia kami istirahat dulu jadi LA Mania. Nanti setelah selesai baru balik lagi mendukung Persela Lamongan," katanya disambut gelak tawa warga.
Menjelang laga final Argentina kontra Spanyol, antusiasme masyarakat semakin terasa. Sejak beberapa hari terakhir warga bergotong royong menyiapkan lokasi nonton bareng, memasang dekorasi bernuansa biru putih khas Argentina, menata kursi, menyiapkan layar besar, sound system, hingga konsumsi sederhana agar seluruh warga dapat menikmati pertandingan bersama dalam suasana penuh keakraban.
Bagi masyarakat Kampung Sukunan, final Piala Dunia bukan sekadar pertandingan sepak bola. Momen tersebut menjadi ruang silaturahmi lintas usia. Anak-anak, remaja hingga orang tua larut dalam semangat yang sama, memperlihatkan bahwa sepak bola mampu menjadi perekat sosial di tengah kehidupan masyarakat pesisir.
Untuk menjaga semangat kebersamaan itu tetap hidup meski Piala Dunia usai, Ricky bersama sejumlah pemuda kemudian membentuk Rich Foundation, sebuah wadah sosial yang namanya diambil dari identitas sang inisiator.
Melalui Rich Foundation, tradisi janduman diharapkan tidak berhenti hanya karena kompetisi sepak bola berakhir. Sebaliknya, kebersamaan yang telah terbangun akan terus dirawat melalui berbagai kegiatan sosial, kepemudaan, olahraga, hingga pemberdayaan masyarakat.
Di tengah hiruk pikuk Piala Dunia yang berlangsung ribuan kilometer dari Indonesia, Kampung Sukunan membuktikan bahwa sepak bola bukan hanya soal menang atau kalah. Lebih dari itu, olahraga paling populer di dunia ini telah menyatukan hati, memperkuat solidaritas, dan melahirkan sebuah keluarga baru bernama Argamania, yang siap bersorak bersama saat peluit final Argentina melawan Spanyol ditiup.
Editor : Masska
Sip
BalasHapus