LAMONGAN – Di tengah geliat ekonomi kreatif yang mulai bangkit, para pengrajin songkok di Lamongan justru menghadapi tekanan serius akibat kenaikan harga bahan baku. Dalam dua pekan terakhir, lonjakan harga terjadi pada berbagai komponen produksi dan mulai menggerus keuntungan pelaku usaha rumahan.
Pantauan di sentra industri songkok di Kecamatan Kalitengah menunjukkan aktivitas produksi masih berlangsung seperti biasa. Suara mesin jahit terus berdengung, namun kekhawatiran terlihat dari para pengrajin yang harus menghadapi kenaikan biaya produksi yang semakin sulit dikendalikan.
Salah satu pengrajin di Desa Butungan, Ainur Rokim, menyebut hampir seluruh bahan pendukung mengalami kenaikan harga. Plastik mika ukuran 25 meter kini dijual antara Rp220 ribu hingga Rp240 ribu, naik dari harga sebelumnya sekitar Rp220 ribu.
“Semua naik. Plastik mika sekarang sudah Rp240 ribu, padahal sebelumnya Rp220 ribu,” ujar Ainur Rokim kepada wartawan, Kamis (15/4/2026).
Bukan hanya itu, harga kertas kini berada di kisaran Rp27 ribu hingga Rp30 ribu per kodi. Biaya sablon juga meningkat dari Rp5 ribu menjadi Rp6 ribu per unit. Kenaikan serupa terjadi pada harga kardus songkok yang kini mencapai Rp1.800 hingga Rp2.200 per pieces, serta kantong plastik pembungkus yang naik menjadi Rp80 ribu hingga Rp110 ribu per 10 ikat.
“Untuk box besar isi 20 pieces, harganya juga naik dari Rp85 ribu menjadi Rp110 ribu,” tambahnya.
Di tengah tekanan tersebut, para pengrajin masih sedikit terbantu karena harga kain bludru sebagai bahan utama masih relatif stabil. Kain bludru impor saat ini berada di kisaran Rp94 ribu per yard (90 cm).
Meski biaya produksi terus meningkat, pengrajin masih berupaya mempertahankan harga jual songkok di angka Rp21 ribu per buah atau Rp420 ribu per kodi (isi 20). Langkah ini diambil untuk menjaga daya beli konsumen di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih.
Namun, kondisi tersebut diperkirakan tidak akan bertahan lama. Jika tren kenaikan bahan baku terus berlanjut, para pengrajin mulai mempertimbangkan penyesuaian harga jual agar usaha tetap berjalan.
“Kalau satu bulan ke depan masih naik terus, terpaksa harga jual kami naikkan untuk menghindari kebangkrutan,” ungkap Ainur.
Kecamatan Kalitengah sendiri dikenal sebagai salah satu pusat industri songkok terbesar di Lamongan. Ratusan warga menggantungkan penghidupan dari sektor ini, dengan hasil produksi yang dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia.






0 Post a Comment:
Posting Komentar